SEJARAH DESA

PROFIL DESA

  1. Kondisi Umum Desa

Pentingnya memahami kondisi Desa untuk mengetahui kaitannya dengan perencanaan dengan muatan pendukung dan permasalahan yang ada memberikan arti penting Keputusan Pembangunan sebagai langkah pendayagunaan serta penyelesaian masalah yang  timbul di masyarakat.

          Desa Tanggungharjo adalah salah satu dari 11 desa yang ada dikecamatan Grobogan yang terletak kurang lebih 3 Km kearah timur dari Kecamatan grobogan,  Desa Tanggungharjo mempunyai wilayah seluas : 1.163.500 Ha  dengan jumlah penduduk 7.752 jiwa dengan jumlah Kepala keluarga : 2.780 Jiwa, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara       : Desa Putatsari
  • Sebelah Timur       : Desa Plosorejo
  • Sebelah Selatan     : Desa Rejosari
  • Sebelah Barat        : Desa Teguhan

Iklim Desa Tanggungharjo sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap kegiatan pertanian yang ada  di desa Tanggunharjo.

  • Sejarah Desa
  • PUSAKA “JONTRO MAS

Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung memegang tampuk pemerintahan, menjadi Negara yang subur makmur tenteram dan damai sejahtera.

Hal tersebut dikarenakan kebijaksanaan Baginda terhadap rakyat di negeri Mataram.

Demikian pula karena dukungan para pejabat kerajaan dan juga oleh pengaruh kekuatan berbagai pusaka kerajaan seperti :

Tombak kyai pleret, keris Nogo sosro sabuk inten, Pedang kangkam, Keris pulanggeni, keris Kyai Sengkelat, Tekuk Penjalin.

Masih ada lagi pusaka kerajaan yang tersimpan, padahal pusaka tersebut mempunyai daya penyubur tanah, tanaman maupun kemakmuran rakyat dimana raja yang memiliki pusaka tersebut berkuasa ( di Mataram ).

Pusaka tersebut bernama “Jontro Mas”

Namun kemasyhuran dan keharuman Negara Mataram tidak membuat para pejabat dan rakyat tentram, sebab ternyata ada salah seorang pejabat kerajaan Mataram yang ingin merebut kekuasaan, padahal kalau ingin melawan sudah pasti tidak mampu menandingi kekuatan Sang Raja dan pasti akan kalah dalam peperangan, akhirnya akan hancur segala apa yang menjadi tujuannya.

Siapakah gerangan pejabat yang dimaksud, tidak lain adalah Gusti Pangeran Haryo Sosro Binoro.

Sedemikian besar keinginan Pangeran Haryo Sosro Binoro membuat lemahnya pemerintahan Kanjeng Sultan Agung di Mataram.

Melihat sedemikian tentram keadaan rakyat serta sedemikian taatnya kepada kekuasaan besar di Mataram, karena daya kesuburan dan kemakamuran kehidupan masyarakat, sehingga sulit untuk dibujuk untuk ikut memberontak.

Maka dari itu Sang Pangeran mencari rahasia apa yang menjadikan kemakmuran Negara Mataram.

Menurut petunjuk dari salah satu sesepuh/ tetuwo ( penasehat ) Kerajaan Mataram, Pangeran Haryo Sosro Binoro mengetahui bahwa yang membuat semua keadaan di Mataram tanahnya menjadi ssubur makmur, adalah Pusaka “Jontro Mas”.

Dengan tekad yang bulat, beliau berkeinginan mencuri pusaka “Jontro Mas” dan melarikan diri melepaskan diri dari wilayah Mataram dan mendirikan kerajaan baru disebelah utara pegunungan Kendeng Tengah.

Pada suatu malam menurut perhitungan Jawa merupakan saat yang baik, Pangeran Haryo Sosro Binoro mencuri pusaka “Jontro Mas” dan kemudian melarikan diri meninggalkan kerajaan Mataram.

Hilangnya pusaka “Jontro Mas” menyebabkan banyak tanaman padi ,polowijo dan perkebunan yang mati.

Para rakyat kecil menderita, sengsara karena wabah penyakit dan kurang sandang pangan, kejahatan mulai merambah masuk wilayah Mataram.

Melihat keadaan kerajaan Mataram yang berbeda dengan keadaan yang sebelumnya, maka beliau ingkang sinuhun kanjeng Sultan Agung berkenan memanggil penasehat agung yang dituakan dari seluruh pejabat kerajaan serta pembesar kerajaan.

Dari saran yang diberikan oleh Patih Mondoroko, sang pangeran berkenan meneliti dan memeriksa gedung pusaka, dan betapa terkejutnya karena pusaka “Jontro Mas” hilang dari tempatnya.

Dari hasil penelitian bersama, maka menghasilkan dugaan bahwa yang menjadi sasaran kecurigaan sebagai penyebab hilangnya pusaka tersebut adalah Gusti Pangeran Haryo Sosro Binoro.

Menurut informasi Gusti Pangeran Haryo Sosro Binoro pergi ke arah utara dengan menunggang kuda.

Setelah jelas semuanya, beliau sang Pangeran Kanjeng Sultan Agung memerintahkan kepada seluruh pejabat, serta seluruh pembesar pemerintah kerajaan, agar mengumumkan kepada seluruh rakyat diwilayah kerajaan bahwa barang siapa dapat menyerahkan terdakwa Pangeran Haryo Sosro Binoro serta kembalinya pusaka “Jontro Mas” tanpa memandang derajat maupun pangkat, maka orang tersebut akan dianugrahi kedudukan serta tanah perdikan yang sesuai dengan jasanya/ pengorbanannya.

Perintah inipun ditujukan kepada Pangeran Katong, salah seorang punggawa atau pejabat kerajaan, yang tinggal di dusun Katong wilayah disebelah utara pegunungan Kendeng Tengah.

Oleh karena itu Pangeran Katong menyampaikan perintah tersebut keseluruh wilayah Katong dan sekitarnya.

  • KI AGENG TANGGUNG

Dengan membawa pusaka “Jontro Mas” Pangeran Haryo Sosro Binoro mengendari kuda pergi ke arah utara mencari tempat yang pantas untuk dibangun kerajaan.

Setelah berjalan menelusuri hutan beberapa bulan lamanya, Pangeran Haryo Sosro Binoro menemukan tempat yang di inginkan yakni dusun Pungkruk, karena warga merasa tidak mampu menandingi kekuatan dan kesaktian, para penduduk di dusun Pungkruk menyerah dan tunduk serta mengikuti apa yang diperintahkan oleh Pangeran Haryo Sosro Binoro sebagai pimpinan masyaraakat Pungkruk.

Supaya tidak terbongkar jatidirinya, Pangeran Haryo Sosro Binoro memakai nama samaran Ki Matramandowo, yang mengandung arti sandi atau rahasia : Seorang bangsawan yang menentang terhadap kekuasaan Mataram.

Sejak Ki Matramandowo berkuasa menjadi pimpinan masyarakat Pungkruk, maka dusun tersebut dan dusun sekitarnya menjadi subur makmur, para warga sehat sejahtera dan berdampak pada perkembangan desa sekitar Pungkruk yang menjadi semakin ramai.

Agar sesuai dengan keadaan warga Pungkruk memohon kepada Ki Ageng agar nama desa Pungkruk dirubah, ada diantara para warga minta nama “Panggung Rejo” yang diambil dari pengertian Tempat yang tinggi, dibandingkan dengan daerah sekitarnya.

Dengan perasaan yang mantap, agar menjadikan berkenan pada hati, semua warga agar lebih giat bekerja dan belajar ketrampilan, Ki Ageng memberi nama “Tanggung Harjo” yang artinya desa Pungkruk dan sekitarnya pasti akan menjadi desa yang subur makmur totoraharjo makin termashur melebihi desa- desa yang lain, dengan maksud terselubung dari tujuan Ki Ageng pribadi ialah menjadi kota Kerajaan para warga Pungkruk dan sekitarnya setuju dengan nama baru “Tanggung Harjo” oleh karena itu Ki Ageng Matramandowo lebih lazim disebut Ki Ageng Tanggung.

Pekerjaan sehari- hari para warga di desa Tanggungharjo berupaya meningkatkan pertanian, serta latihan perang meningkatkan kekuatan dan kesaktian, dengan tujuan untuk menjaga ketentraman desa namun tujuan yang utama yang tersembinyi, Ki Ageng mempersiapkan prajurit yang sebanyak- banyaknya untuk menentang kerajaan Mataram.

  • KI SUROGATI

Berita tentang sayembara dari Mataram sudah terdengan sampai wilayah Muria.

Kanjeng Sunan Muria yang bernama Raden Kusumastuti ingin mengikuti dengan tekat yang kuat memberikan bantuan demi ketentraman Negara dan rakyat Mataram dan wilayahnya.

Dengan nama samaran (sandi) “Ki Surogati” Kanjeng Sunan Muria berguru kepada Penembahan Katong.

Setelah mendapat petunjuk dan bekal secukupnya, Ki Surogati pergi menelusuri hutan hutan menuju timur laut, menjadi pande besi yang membuat peralatan pertanian.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pande besi selalu berpindah- pinah dari desa ke desa yang lain, dengan tujuan mendapat informasi dimana tempat si pencurri “Jontro Mas”

Pada suatu hari perjalanan Ki Surogati tiba di desa Paguwang yang terletak disebelah baarat laut desa Tanggungharjo.

Mengetahui ramainya suasana desa sekitar Paguwang terlebih desa Tanggungharjo, Ki Surogati berkenan sekali untuk menjadi pande besi dibantu oleh dua orang pengikutnya, yakni Sampan dan Alip, sedemikian baik pekerjaannya maka banyak masyarakat desa lain yang memesan peralatan pertanian di Paguwang.

Seperti biasanya orang- orang yang memesan alat- alat pertanian bersama menunggu sambil berbincang- bincang tentang apa yang terjadi disekitarnya serta hal- hal yang aneh dan mengherankan.

Dengan diam- diam Ki Surogati mendengarkan pembicaraan orang- orang tersebut, dalam hati menduga bahwa ada tanda- tanda yang mulai jelas tentang hilangnya pusaka “Jontro Mas” dan pencurinya.

Maka pada suatu hari beliau menyatakan kepada Sampan bahwa tidak akan pindah ke desa lain, bahwa para abdi diharapkan makin teliti dan rajin dalam mengerjakan peralatan pertanian agar makin banyak yang memesan.

  • PENCURI SATRIA

Sejak mendapat sisikmelik tentang hilangnya pusaka kerajaan Mataram tersebut maka Ki Surogati yakni Mpu Paguwang makin giat meneliti berita yang menyangkut Ki Ageng Tanggung.

Pada suatu saat ketika mendengar berita bahwa Ki Ageng Tanggung mempunyai putrid yang sudah remaja dan kecantikannya tanpa cacat, namun belum menikah, konon banyak pemuda dan orang- orang di Tanggungharjo dan sekitarnya dan juga dari desa lainya tidak berani melamar karena takut ditolak dan dimarahi oleh Ki Ageng Tanggung.

Mendengan berita tersebut Ki Surogati merasa senang sebab mendapatkan wawasan yang makin jelas.

Pada ssuatu hari Ki Surogati memanggil Sampan untuk diajak melamar putri Ki Ageng Tanggung ,kepergian Ki Surogati dan Sampan menuju ke desa Tanggungharjo hanya dengan jalan kaki.

Kira- kira sehabis isya’ sudah sampai ketempat yang dituju yakni rumah Ki Ageng Tanggung di Tanggungharjo.

Kedatanganya diterima oleh Ki Ageng Tanggung dan Istri.

Melihat keadaan fisik, kulit dan pula wajahnya, Ki Surogati memastikan bahwa Ki Ageng Tanggung adalah bangsawan dari kota, namun masih ada rasa khawatir sedikit, sebab Ki Ageng Tanggung lebih kelihatan menakutkan dan kelihatan garang.

Sesudah saling berkenalan dan berbicara masalah pekerjaan termasuk acara menjelang bulan purnama yang akan dating, Ki Ageng Tanggung akan mengadakan ujian bagi para pemuda dalam hal kemampuan dan kesaktian yang akan dilaksanakan disebuah hutan Tapak, sebelah utara desa Ploso sebelah timur desa Tanggungharjo.

Ki Surogati menyampaikan lamaran yang ditujukan kepada putrid Ki Ageng.

Dengan sikap yang agak seram dan mengandung penghinaan, Ki Ageng menerima lamaran Ki Surogati asal dapat mewujudkan dan menyerahkan upeti pusaka “Jontro Mas”

Tajam dugaannya mendengan kata pusaka “Jontro Mas” Ki Surogati memastikan bahwa Ki Ageng Tanggung adalah penjahat yang dicari, oleh karena itu permintaan tersebut disanggupi dan memohon diri serta mengatakan bahwa satu lapan ( 36 hari ) lagi akan datang dan menyerahkan apa yang diminta oleh Ki Ageng Tanggung.

Kepulangan Ki Surogati dan Sampan diantar oleh Ki Ageng Tanggung dengan senyum sinis.

Didalam hati Ki Ageng Tanggung memastikan bahwa Ki Surogati tidak akan dapat mewujudkan permintannya, sebab yang memiliki pusaka tersebut hanyalah Ki Ageng sendiri.

 Menjelang saat pukul 24.00 Ki Ageng mohon pamit kepada Nyi Ageng mengantar murid yang akan mengikuti ujian fisik ditengah hutan Tapak.

Sepeninggal Ki Ageng nyi Ageng mematikan lampu kemudian tidur, baru beberapa saat Nyi Ageng mendengar orang mengetuk pintu dan batuk- batuk, mengira bahwa yang datang adalah Ki Ageng  kemudian bersamaan terbukanya pintu setelah masuk kedalam Ki Ageng palsu yaitu Ki Surogati minta pusaka “Jontro Mas” dengan alasan untuk menundukan musuh yang sakti.

Tanpa curiga pusaka diberikan, sesudah cukup Ki Ageng palsu minta pamit sepertihalnya orang berkeluarga.

Baru beberapa langkah dari pintu mendengar orang datang sambil mendehem dan memanggil Nyi Ageng, Ki Surogati terus berkelit kesebelah dinding bambu sebelah kiri, berlindung dibalik pohon pisang mendengarkan apa yang terjadi didalam rumah Ki Ageng meminta pusaka “Jontro Mas” Nyi Ageng terkejut dan mengatakan bahwa pusaka barusaja diambil Ki Ageng.

Atas keterangan Nyi Ageng, Ki Ageng memastikan bahwa rumah Tanggungharjo kemasukan pencuri,

Mengingat bahwa pada saat kedatangannya melihat sekilas bayangan, maka Ki Ageng berbicara keras : Siapa pencurinya !!! kalau toh seorang kesatria maka menampaklah……

Dari luar dinding Ki Surogati menjawab “ Saya Ki Surogati “ sreeettt pedang dihunus dengan hati yang panas Ki Ageng Tanggung keluar rumah melihat bayangan dibalik pohon pisang pedang diayunkan, pohon pisang roboh Ki Surogati lari kearah utara.

Ki Ageng Tanggung memukul kentongan dan memerintahkan masyarakat Tanggungharjo agar menangkap pencuri Ki Surogati. Namun perjalannya terhalang pohon gayam, yang menyebabkan keadaan makin gelap, Ki Ageng memerintahkan agar pohon gayam ditebangi.

Ki Surogati lari terus kea rah barat dan berkata bahwa wilayah yang banyak gayam tersebut kelak menjadi desa yang dinamakan Karanggayam.

Untuk mudahkan penangkapan Ki Surogati, Ki Ageng memerintahkan agar pohon- pohon yang menjadi penghalang ditebaas, akibatnya pepohonan bertumbangan dan berserakan.

Ki Surogati lari kea rah barat bersembinya dibawah pohon putat sambil bersabda bahwa tempat tumbangnya pohon- pohon yang ditebang kelak dikemudian zaman dnamakan desa Babadan.

Sedemikiana banyaak orang- orang Tanggungharjo yang memburu, suasana semakin kacau dan kalang kabut, saling menabrak,pohon putat yang pada saat itu sedang berbunga, harum menyebar sari yang menyebabkan rontoknya benangsari sedemikian banyaknya menaburi mata dan mengganggu pandangan mata bagi orang- orang Tanggungharjo dan Ki Ageng.

Dengan selamat KiSurogati lari kea rah barat, merasa dirinya selamat, Ki Surogati bersabda bahwa tempat dimana banyak pepohonan putat, dimasa yang akan dating dikenal sebagai desa Putatsari, masih dalam pelarian ke arah barat Ki Surogati bersembunyi di bawah pohon bambu ori yang sudah dibersihkan / ditebas duri- durinya.

Disebelah tenggara dalem (rumah) Paguwang Ki Ageng dan orang- orang Tanggungharjo memeriksa sekitar rumah, berhubung tidak menemukan lalu mencari ditempat lain.

Tiba- tiba ada salah seorang murid Tanggungharjo yang tanpa disengaja melemparkaan kereweng ( pecahan keramik ) kearah barongan bambu ori, dan kebetulan mengenai mata Ki Surogati tepat pada teleng ( bola mata ) dengan berteriak aduh….Ki Surogati menyeberang sungai kearah timur, sesampainya ke seberang Ki Surogati berkata bahwa tempat tersebut dinamakan desa Ketileng, selanjutnya Ki Surogati lari ke arah selatan dan masih terus diburu kemudian menyeberang ke barat menyusup kebelukar, terus lari kearah tenggara Ki Ageng Tanggung mengira kalau Ki Surogati bersembunyi di dalam semak belukar disebelah selatan Paguwang terseut, oleh sebab itu belukar lalu dikrocok dan dikroyok seperti halnya tindakan orang- orang yang mengkroyok binatang.

Berkat persembunyianya dibawah pohon jati yang dikitari belukar, Ki Surigati berkata bahwa belukar yang dikeroyok tersebut, kelak dinaamakan “Groyokan” baru selesai berkata Ki Surogati terkejut ada suara rebut- rebut dikira orang- orang yang memburu sudah dekat, padahal rencana akan keluar dari persembunyianya, khawatir ketahuan oleh musuh ia hanya pasrah dengan hati berdebar- debar tidak berani bergerak, hanya bola matanya yang bergerak berkedip- kedip, setelah diteliti suara gemuruh tersebut bukan suara musuh yang datang, melainkan suara kelopak bambu kering yang berjatuhan.

Hal tersebut terjadi karena diwilayah tersebut banyak pohon bambu peting dan ori.

Dirasakan aman Ki Surogati berkata “Belukar dimana terdapat pohon jati dimana saya bersembunyi dibawahnya, maka dikemudian zaman dinamakan Jati Kelip dan wilayah yang banyak terdapat bambu peting yang kelopak bambunya kering berjatuhan bergemuruh tersebut kelak kemudian zaman dinamakan desa “ Sasak” ( dari kata kemprosak/ gemuruh).

Ki Surogati melanjutkan perjalanan menuju kearah selatan, namun terhalang dengan sungai yang banjir, maka dengan perasaan yang kecewa tempat tersebut dinamakan “Kali alang” selanjutnya pergi kearah barat melewati tanah yang tandus/ taanah kosong tanpa tanaman oleh karena itu pengikut Ki Ageng Tanggung melihat orang berjalan ditengah- tengah tanah yang kosong lalu berteriak bersama- sama seretak “Maling…..maling……”mendengar suara teriakan tersebut Ki Surogati lari ke arah utara, sesudah menyebrang jalan ditengah kebun disebelah barat jalan setapak, sebelah selatan sungai, Ki Surogati istirahat sebentar agar nafasnya dapat reda kembali sambil berkata bahwa sawah kosong tersebut agar dinamakan “ Sawah plampangan”.

Ibarat orang makan sirih belum habis, artinya waktu istirahat baru sebentar, Ki Surogati terkejut karena musuh sudah mengepung, dengan tekat yang kuat dengan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Ki Surogati terjun kedalam sungai yang kebetulan sedang banjir yang airnya keruh, dengan menyusuri sungai Ki Surogati menyelam dan masuk desa, setelah diraasakan aman Ki Surogati naik ke darat dari sungai sambil berkata bahwa pada pertemuan sungai dimana Ki Surogati terjun agar dinamakan “ Kalinggo” yang artinya mendapat keselamatan karena mendapatkan perlindungan sungai.

Dengan maksud pulaang ke desa Paguwang serta kebun dimana Ki Surogati dikepung musuh, agar dinamakan “ Dadah Kalangan”.

Namun tiba- tiba terdengar suara berisik dari arah timur, adalah suara orang- orang Tanggungharjo Ki Surogati lari kea rah barat kemudian berbelok kea rah utara menjelang pagi hari Ki Surogati sampai pada tempat dekat belukar yang lebat, kemudian bersembnyi didalam belukar tersebut, anehnya didalam belukar tersebut ada ayam hutan dan ayam hutan tersebut tidak pergi bahkan berkokok nyaring berkali- kali.

Ada semacam binatang melata semacam bengkarung, yang mondar- mandir menjilati bekas telapak kaki Ki Surogati sampai agak jauh, kemudian kembali ke belukar tersebut, laba laba kemplandingan sibuk menganyam jaring yang rusak diterjang Ki Surogati.

Sepasang rusa jantan dan betina yang sedang menikmati rumput didekat belukar tersebut, yang se ekor mengunyah rumput sambil santai dibawah belukar, suasana tersebut berjalan seakan- akan tidak ada orang yang datang di belukar tersebut.

Berhubung suasana sudah terang, ada beberapa murid Ki Ageng Tanggung yang menemukan jejak manusia, yang menurut pendapatnya adalah jejak Ki Surogati, kemudian ditelusuri kea rah barat, ke utara kelihatannya menuju belukar yang lebat, namun merupakan suatu keanehan beberapa meter sebelum belukar jejak kaki tidak ada kelanjutannya, dilacak sampai ke belukar juga tidak ada.

Terlebih yang sangat mengherankan pada belukar tersebut seperti tidak ada seorangpun yang masuk, sebab rusa- rusa dengan tenang merumput dan istirahat sambil mengunyah rumput, ayam hutan masih melengking berkokok, diatas pohon pada belukar tersebut bengkarung mondar- mandir mencari makan, sedangkan laba- laba kemplandingan dengan enaknya menganyam jaring.

Mengetahui keadaan yang demikian Ki Ageng Tanggung mengira bahwa Ki Surogati dapat menghilang.

Dengan hati yang mendongkol Ki Ageng Tanggung berkata pada pengikutnya “Seluruh keturunanku di Tanggungharjo jangan sampai ada yang menikah dengan keturunan Ki Surogati sudahlah mari kita pulang, keburu ditunggu keluarga.

Saat pulangnya melewati desa Paguwang Ki Ageng Tanggung berkata “Tempat ini pusatnya maling”!!!!!!

  • PEMBANTU YANG SETIA

          Semalam suntuk perasaan Ki Sampan dan Ki Alip merasa berdebar- debar memikirkan keselamatan Ki Surogati, maka hari mulai pagi dua orang tersebut mulai membagi tugas Ki Sampan bertugas menjaga/ menunggu besalen ( tempat kerja ) sedangkan Ki Alip akan mencari Ki Surogati membaur dengan orang- orang Tanggung.

Perjalanan Ki Alip sampai pada tempat dekat belukar, tiba- tiba melihat ada orang keluar dari belukar tersebut, setelah diamati betul- betul ternyata orang tersebut adalah Ki Surgati, Ki Alip takhenti- henti memandangi setelah saling tegur sapa dan berbasa basi Ki Surogati mengambil air wudhu ke sungai sebelah utara belukar tersebut untuk melaksanakan sholat subuh yang di ikuti oleh Ki Alip sebagai makmum, selesai sholat subuh Ki Surogati berkata kepada Ki Alip agar tempat tersebut dinamakan Teguhan dan Ki Surogati mengganti nama menjadi Ki Teguh Widdodo.

Pesan saya sekali lagi padamu dan perlu diingat- ingat seluruh keturunan warga Teguhan jangan sampai membunuh rusa, ayam hutan, bengkarung dan laba- laba kemplandingan, bahkan diharapkan menjadi pelindung satwa buruan Ki Alip hanya menurut semua nasehat nKi Surogati.

Setelah semuanya disampaikan ke Ki Surogati, perjalanan pagi itu di ikuti oleh Ki Alip menghadap Panembahan Katong untuk menyampaikan laporan tentang tugas yang telah dilaksanakan.

Kedatangan mereka ke Katong diterima oleh Panembahan Katong dengan perasaan gembira.

Setelah saling tegur sapa Ki Surogati menyerahkan pusaka “Jontro Mas” dan mengatakan bahwa yang menyiman pusaka tersebut adalah Ki Ageng Tanggung yang menyamar dengan nama Ki Matramandowo.

Untuk menyelidiki apa yang disampaikan oleh Ki Surogati, Panembahan Katong sebagai utusan agung dari keajaan Mataram, beliau menginginkan untuk dating ke Tanggungharjo, yang diikuti Ki Surogati dan Alip.

  • SABDO IBARAT MANTRA

Perjalanan Panembahan Katong tidak disebutkan.

Kedatangannya ke desa Tanggungharjo sangat mengejutkan Ki Ageng karena didalam hati sudah mengakui kesalahannya.

Sesudah tegur sapa dan berbasa basi, Panembahan Katong menyampaikan tentang maksud kedatangannya di Tanggungharjo “ Adinda Pangeran Sosrobinoro saya tidak mengira bahwa disini ada pedesaan yang ramai yang ternyata adinda sendiri yang memegang tampuk pimpinan, tentang kedatangan saya kemari sebagai utusan beliau Sultan Agung di Mataram, untuk mencari hilangnya pusaka “Kyai Jontro Mas “ adapun Ki Surogati ini adalah murid saya, yang saya utus untuk mencari informasi dan juga tidak mengira bahwa adinda yang meminjam pusaka tersebut secara diam- diam.

“Dengan maksud apakah gerangan, bahwa adinda sampai hati berbuat hal tersebut..?”

“ Kanda Panembahan Katong perkenankan saya secara terus terang ingin mempunyai kekuasaan seperti halnya Kanjeng Sultan Agung, yang menguasai pemerintahan meskipun hanya kecil dan membuat sekarang keinginan saya sudah terlaksana, oleh sebab itu semua kesalahan saya terhadap pemerintah Mataram saya akui, dan menyerahkan hidup dan mati saya kepada kakanda sebagi utusan agung Mataram.

Namun kalau kakanda sebagai duta agung berkenan memberikan pengampunan saya memilih untuk dicabut kehormatan saya sebagai keluarga bangsawan dan seluruh milik saya diwilayah kebangsawanan Mataram.

Perkenankan saya menerima derajat sudra, untuk dapat melanjutkan memimpin dan mengasuh semua masyarakat di desa Tanggungharjo, demikian pula seluruh keturunan saya di kelak kemudian jangan sampai ada yang berani menentang pemerintahan Mataram dan seterusnya.

Seperti halnya sesama keturunan bangsawan, Panembahan Katong merasa tersentuh mendengar ucapan Gusti Pangeran Haryo Sosro Binoro yang tujuanya baik tetapi terdorong oleh perasaan yang terburu- buru, hingga menempuh jalan yang salah menurut aturan Negara.

Demikian pula berani bertanggungjawab dan meminta maaf secara sopaan dan santun, sampai menyerahkan derajat kebangsawanannya demi membela rakyat kecil di pedesaan.

Maka dari itu sabda Panembahan Katong “ Adinda pangeran saya hanya utusan tidak berani memutuskan kewajiban saya hanya memberikan laporan kepada yang mengutus.

Mengetahui keadaan kisah adinda semua itu perkenankanlah saya mengatakan:

  1. Pusaka Jontro Mas ini saya bawa pulang ke Mataram sebagai bukti.
  2. Tentang hukuman untuk adinda berkenanlah menunggu keputusan paduka di Mataram, hanya adinda jangan sampai melarikan diri dari Tanggungharjo, sampai datangnya utusan dari Mataram yang menyampaikan keputusan untuk adinda, tetaplah memimpin rakyat di Tanggungharjo.
  3. Tentang tujuan adinda yang luhur dan sudah adinda jalankan dikemudian waktu, meski hanya seberapa, ada keturunan Tanggungharjo yang menjadi Senopati pemimpin prajurit dan pemimpin pemerintahan yang mampu menjabat pemerintahan meskipun hanya sebagian kecil wilayah Negara.
  4. Karena desa Tanggungharjo ini sudah pernah ketempatan “ Kyai Jontro Mas “ yang memberi daya kesuburan pada pertanian, maka desa Tanggungharjo menjadilah desa yang makmur, subur, banyak peternakan, mengenai diri saya, sebenarnya saya ini adalah Kanjeng Sunan Muria.

Berkata sedemikian itu Kanjeng Sunan Muria sambil membuka caping ( topi petani ) kelihatan serbannya dan memegang tasbih.

Mengetahui keadaan yang demikian, yang hadir di dalem Ki Ageng semuanya memberi hormat.

Setelah dianggap cukup para tamu bersama- sama meninggalkan pendopo Tanggungharjo, sedangkan Ki Ageng mengantarkan sampai kehalaman dengan sikap pasrah apabila sewaktu- waktu menerima keputusan Ratu Agung di Mataram.